
RADARRAKYAT.COM, KUALA PEMBUANG — Pemerintah Kabupaten Seruyan bersama Tim Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar sosialisasi dan penyuluhan pencegahan karhutla kepada para pelajar SMKN 1 Kuala Pembuang, Selasa (8/9).
Kegiatan yang berlangsung di Aula SMKN 1 Kuala Pembuang tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai bahaya karhutla sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran, khususnya di lingkungan pertanian dan rumah tangga.
Sejumlah pejabat daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Bupati Seruyan H. Supian, S.Ag., Plh. Sekretaris Daerah Seruyan dr. Bahrun Abbas, M.P.H., serta Ketua DPRD Kabupaten Seruyan Zuli Eko Prasetyo.
Dari jajaran Satgas Karhutla, hadir Komandan Satgas Karhutla Brigjen TNI (Mar) Citro Subono bersama Wakil Komandan Satgas Karhutla Laksma TNI Bambang Wasisto. Keduanya didampingi Kolonel Laut (P) Whisnu Kusardhianto, Kolonel Laut (S) Anggun Nan Tungga, Kolonel Mar. A. Temmy Irawan, dan Koptu Anas sebagai bagian dari tim narasumber.
Sementara itu, pihak sekolah diwakili Kepala SMKN 1 Kuala Pembuang Tony Hermadi, S.Pi., bersama jajaran guru dan para pelajar.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Seruyan H. Supian menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai karhutla penting dilakukan secara berkelanjutan agar dapat membantu menekan potensi kebakaran di berbagai lingkungan.
“Mudah-mudahan dengan diadakannya sosialisasi ini dapat membantu mengurangi terjadinya karhutla, khususnya di lingkungan lahan pertanian dan lingkungan rumah tangga,” ujar Supian.
Ia juga mengingatkan para pelajar sebagai generasi penerus untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan daerah maupun bangsa.
“Adik-adik sekalian adalah generasi penerus. Tegak runtuhnya, kuatnya suatu negara itu ada di tangan kalian,” katanya.
Sementara itu, Komandan Satgas Karhutla Brigjen TNI (Mar) Citro Subono menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat sebagai bagian utama dalam pencegahan karhutla.
Menurut Citro, faktor manusia menjadi salah satu aspek dominan dalam terjadinya karhutla. Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, peralatan, maupun besarnya anggaran pemerintah.
“Karhutla ini 90 persen adalah human error. Sehebat apa pun alat yang didatangkan dan seberapa banyak biaya yang dikeluarkan, yang termahal adalah mindset orang-orang yang ada di sekitar karhutla. Itu yang perlu diubah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kehadiran para perwira dan tenaga ahli di daerah rawan karhutla salah satunya diarahkan untuk mengajak masyarakat mengubah pola pikir agar tidak lagi melakukan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
Citro juga mengingatkan bahwa pencegahan merupakan langkah yang jauh lebih penting. Menurutnya, kondisi alam menunjukkan bahwa hujan dapat menjadi faktor penting dalam membantu mengatasi kebakaran, sehingga manusia perlu menyadari keterbatasannya dan menjaga lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, para pelajar diharapkan tidak hanya memahami bahaya karhutla, tetapi juga mampu menjadi bagian dari upaya pencegahan dengan menyebarkan kesadaran kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. (Red)























































