KUALA PEMBUANG — Pemerintah Kabupaten Seruyan mendorong pemanfaatan lahan pertanian secara produktif selama musim kemarau dengan mengembangkan tanaman hortikultura seperti semangka dan mentimun. Hal tersebut disampaikan Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda, S.E., M.Si., saat meninjau lahan pertanian di wilayah Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (16/9).
Menurut Bupati, pengembangan komoditas hortikultura dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani ketika kondisi musim tidak memungkinkan untuk mengoptimalkan tanaman padi. Selain memiliki masa panen relatif singkat, semangka dan mentimun dinilai memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan.
Untuk tanaman semangka, hasil produksi disebut mampu mencapai minimal dua ton per hektare. Dengan pengelolaan lahan yang baik serta penggunaan bibit unggul, produksinya bahkan dapat mencapai 5,6 hingga 7–8 ton per hektare. Masa panennya juga relatif singkat, sekitar 60 hari, dengan kebutuhan perawatan yang dinilai efisien.
Sementara itu, tanaman mentimun memiliki masa panen lebih cepat, yakni sekitar 28 hari. Harga jualnya disebut berada pada kisaran Rp10.000 per kilogram, relatif setara dengan semangka, dengan kebutuhan modal yang relatif kecil.
Di sisi lain, Pemkab Seruyan juga tengah mempersiapkan program musim tanam padi Okmar (Oktober–Maret). Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian, dalam hal ini Direktur BRMT, direncanakan meninjau kesiapan lahan pertanian di Seruyan. Namun, persiapan di tingkat petani masih membutuhkan percepatan, terutama dalam pembersihan lahan.
Sejumlah petani berharap dukungan Dinas Pertanian tidak hanya berupa bantuan, tetapi juga pendampingan yang lebih aktif dalam menyelesaikan persoalan di lapangan. Mereka turut menyampaikan perlunya perhatian terhadap keamanan di sekitar lahan dan kebun.
Petani menilai Seruyan memiliki peluang menjadi salah satu pemasok utama sayur dan buah untuk pasar regional, termasuk Sampit, mengingat permintaan komoditas hortikultura cukup tinggi.
Ketua kelompok tani, Wukamto, menyampaikan bahwa bantuan pemerintah juga dikelola secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan produksi, antara lain dengan membeli bibit unggul secara daring serta memproduksi pupuk kandang sendiri.
Bupati menekankan pentingnya aparatur pertanian yang tanggap dan progresif. Ia juga meminta pengelolaan infrastruktur pertanian, mulai dari irigasi primer, sekunder, tersier hingga infrastruktur penunjang melalui dana SIPURI, memiliki realisasi yang jelas dan mendukung produktivitas petani. (Red)






















































